facebook pixel

Dapatkan Tipsnya Sekarang Juga...
Merencanakan Manfaat Asuransi Yang optimal
Hanya Dengan Premi Minimal

Caranya, cukup isi form di bawah ini :
Nama Depan :
Alamat Email :
Nomer HP :


Bagi kamu yang berpikir asuransi itu Haram, Coba Renungkan artikel ini !

     Di kalangan penduduk Indonesia yang mayoritas beragama muslim, pasti lebih berhati-hati dalam memilih mengonsumsi makanan yang diizinkan (halal) dan makanan yang tidak diizinkan (haram). 
Meskipun menentukan kategori halal dan haram kebanyakan ditentukan pada jenis produk makanan, tetapi kategori halal dan haram ini juga sebenarnya mempengaruhi semua aspek kehidupan bagi masyarakat yang beragama muslim. 




     Sebagai contoh, beberapa teman muslim berpandangan bahwa menabung di bank itu tidak diperbolehkan (haram) karena mengandung bunga (riba). Di zaman seperti ini, mungkin dibilang terlalu berlebihan jika tidak menaruh uang di bank, karena zamannya sudah serba teknologi. Sebenarnya saya setuju dengan pandangan muslim bahwa menaruh uang di bank itu haram karena mengandung riba. Oleh karena itu Bank-Bank di Indonesia mengeluarkan produk syariah agar yang muslim tetap bisa menaruh uangnya di bank tanpa harus takut melanggar hukum agama. Tentu saja produk syariah ini tidak hanya sekedar nama, cara pengelolaanya pun sudah berbeda karena dilakukan untuk menghilangkan unsur riba dan menyesuaikan hukum islam. Produk syariah apapun yang dikeluarkan oleh perusahaan jasa keuangan di Indonesia, sudah dipastikan dalam pengawasan Majelis Ulama Indonesia.





    Perusahaan jasa keuangan termasuk perusahaan asuransi juga memiliki produk asuransi syariah. Sebenarnya produk syariah tidak hanya diterapkan di Indonesia saja, tetapi pusat keuangan syariah berada di London, UK. Anda mungkin bertanya-tanya, dimana bagian halalnya dari produk keuangan yang selalu terkesan riba dan judi ? 

    Untuk di negara Indonesia, Majelis Ulama Indonesia akan memberikan label halal jika produk keuangan tersebut baik Bank maupun asuransi terbebas dari 3 hal ini:
1. Maysir (Judi/spekulasi)
2. Gharar (Penipuan)
3, Riba (keuntungan bunga)

   Produk tabungan Bank dan asuransi konvensional (bukan syariah), mungkin secara Islam mengandung 3 hal demikian. Tetapi pada produk syariah, ketiga unsur tersebut dihilangkan. Bagaimana caranya ?

     Ketika seseorang membeli asuransi konvensional, berarti orang tersebut melakukan transfer resiko kehidupan kepada perusahaan asuransi sehingga ketika terjadi resiko kehidupan pada orang tersebut, kerugian ekonominya dibayarkan oleh perusahaan asuransi. Prinsip yang berlaku dalam asuransi konvensional adalah prinsip jual beli.


   Berbeda halnya dengan asuransi syariah, prinsip yang digunakan adalah prinsip tolong menolong. Asuransi syariah memiliki prinsip gotong royong dalam menolong antar nasabah, uang yang disetorkan nasabah-nasabah yang mengikuti program asuransi syariah yang dikenal dengan istilah akad tabbaru yang akan digunakan untuk menolong nasabah lainnya ketika terkena musibah.
Sebagai contoh, ketika ada kenalan anda yang sakit parah ataupun meninggal, anda pasti memberikan sumbangan atau santunan meskipun hanya dalam jumlah kecil sebagai bentuk rasa simpati anda untuk membantu keluarga yang ditinggali sang almarhum betul? 

     Konsep ini sama dengan arisan atau kumpulan sumbangan yang anda berikan kepada orang yang meninggal, hanya saja jumlah orang yang berpartisipasi adalah semua peserta nasabah asuransi syariah di seluruh Indonesia. Ketika salah satu dari peserta terkena musibah, dana yang terkumpul dari para peserta yang lain yang akan digunakan untuk membantu peserta yang terkena musibah. Tentu saja nilai pemberiannya sudah ditentukan dalam bentuk buku polis. Disini perusahaan asuransi hanya sebagai operator saja yang bertugas mengatur regulasi pembagian santunan agar tidak terjadi masalah kedepannya. Perusahaan asuransi tidak ada mengambil hasil keuntungan uang yang dikumpulkan nasabah dan tidak ada mencampuri uang nasabah dengan uang perusahaan asuransi.



   Sebenarnya pada konsep asuransi syariah, secara tidak langsung anda diajari untuk belajar bersedekah dengan cara menyetorkan premi setiap bulannya, tentu saja kembali lagi konsep asuransi syariah adalah prinsip tolong menolong dan gotong royong. Selain itu, jika anda sebagai kepala keluarga maupun seseorang yang menafkahi keluarga, di dalam Al-Quran juga menyebutkan kewajiban anda harus mencukupi kebutuhan istri dan anak-anak anda dan jangan meninggalkan utang bahkan ketika andapun sudah berpindah dunia. Selain anda membantu orang lain, anda juga sedang membantu keluarga anda dan diri anda sendiri. Anda menambah pahala di Surga. 

   Lalu mungkin timbul lagi pertanyaan, produk asuransi di Indonesia mengandung investasi (Asuransi Unit Link)? Di Bank, tabungan syariah juga masih dapat hasil, berarti riba dong? Berikut penjelasannya.

     Pada produk keuangan syariah, tentu saja tidak boleh mengandung maysir, gharar, dan riba. 
Selain itu Majelis Ulama Indonesia juga tidak secara sembarangan memberikan sertifikat HALAL. Di Indonesia, MUI mengatur regulasi untuk berinvestasi pada tempat yang bukan dari perusahaan rokok, alkohol, senjata, dan barang-barang haram lainnya. Selain itu, MUI membuat daftar perusahaan yang pengelolaan sahamnya mengikuti ketentuan syariah, dan di Indonesia hanya terdapat 30 perusahaan yang mengikuti ketentuan MUI dalam mengelola indeks harga saham berdasarkan sistem syariah dan ke 30 perusahaan ini tergabung dalam Jakarta Islamic Index. Hasil keuntungan yang di tempatkan pada Jakarta Islamic Index inilah yang dibagi rata kepada peserta asuransi syariah.


     Nah, sudah tahukan sistem kerjanya asuransi syariah? Jadi, seharusnya anda jangan ragu untuk menabung di Bank maupun berasuransi, pilihlah produk syariah jika anda ingin murni menolong orang. Anda disegani manusia dan dihadapan Tuhan.

Jika anda masih membutuhkan pertimbangan atau ingin berkonsultasi klik disiniGRATIS !

Atau hubungi

Clara 081520465346 (Whatsapp)
IG : @tips_membeli asuransi
Page FB : @tipsallianz

Akhir kata, semoga anda sehat selalu dan menjadi masyarakat yang cerdas dan bijak.