facebook pixel

Dapatkan Tipsnya Sekarang Juga...
Merencanakan Manfaat Asuransi Yang optimal
Hanya Dengan Premi Minimal

Caranya, cukup isi form di bawah ini :
Nama Depan :
Alamat Email :
Nomer HP :


Asuransi Syariah Benarkah Halal atau Sebaliknya?

 
  
    Asuransi sebenarnya merupakan kebutuhan pokok investasi yang wajib ada untuk perlindungan secara aset terhadap resiko kehidupan. Karena tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan resiko itu datang dan seberapa besar kerugiannya. Dengan adanya asuransi terhadap resiko kehidupan, setidaknya kerugian finansial bisa diminimalisir. Sebagai contoh saja, ketika pencari nafkah meninggalkan dunia ini, setidaknya bisa meninggalkan warisan untuk keluarga yang seharusnya yang masih butuh biaya hidup dari sang pencari nafkah. Contoh lainnya, ketika sang pencari nafkah mengalami sakit kritis dan butuh biaya berobat yang sangat besar, dengan adanya asuransi membuat keluarga tidak perlu khawatir mencari cara bagaimana membayar biaya pengobatan sang pencari nafkah.

   Hanya saja belum semua orang di Indonesia mengerti betapa pentingnya memiliki asuransi, sebagian orang merasa belum perlu (Baca selengkapnya Jangan Pernah Menunda Untuk Beli Asuransi) , sebagian orang mengalami trauma (Baca selengkapnya inilah kesalahan yang sering dilakukan ketika membeli asuransi), dan sebagian lain berpikir bahwa membeli asuransi bertentangan dengan ajaran agama. 

    Khusus untuk teman pembaca yang beragama Islam, di Indonesia ada Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatur regulasi penjualan asuransi berdasarkan nilai-nilai yang ada didalam Al-Quran.  Asuransi ini yang dikenal dengan sebutan asuransi syariah. Asuransi syariah adalah sebuah usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabbaru yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapai resiko tertentu melalui akad sesuai dengan prinsip syariah.

    Dalam agama Islam, asuransi tidak melanggar dan diperbolehkan menurut MUI jika dana yang terkumpul dikelola sesuai dengan syariat Islam. Hal ini disebutkan dalam fatwa MUI no :21/DSN-MUI/X/2001 tentang pedoman asuransi syariah. Fatwa tersebut memuat tentang bagaimana asuransi yang sesuai dengan syariat agama Islam diantaranya :

Akad dalam asuransi syariah


    Didalam asuransi syariah tidak terdapat unsur gharar (penipuan), maysir (perjudian), dan riba. Karena tujuan diadakannya asuransi syariah adalah saling tolong menolong diantara sejumlah orang/pihak dengan mengharapkan ridha dan pahala dari Allah.

    Produk asuransi syariah harus mengandung unsur kebaikan atau istilahnya memiliki akad tabbaru yang berarti kebaikan. Jumlah dana premi yang terkumpul disebut hibah yang digunakan untuk kebaikan, yaitu klaim yang dibayarkan berdasarkan akad yang disepakati awal perjanjian.

   Besarnya nilai premi ditentukan melalui rujukan yang ada, misal merujuk pada tabel mortalita untuk menentukan premi pada asuransi jiwa dan tabel morbidita untuk menentukan premi pada asuransi kesehatan, dengan syarat tidak boleh mengandung unsur riba dalam perhitungannya.

    Secara pengelolaannya, asuransi syariah memiliki resiko dan keuntungan yang harus dibagi rata ke orang-orang yang terlibat dalam investasi. Asuransi tidak boleh dilakukan untuk mencari keuntungan komersial. Jika salah satu peserta asuransi terkena musibah, maka klaim yang didapat adalah dana yang berasal dari peserta asuransi lain seperti konsep arisan. Bila ada keuntungan yang didapat dari hasil investasi dana tersebut, maka itupun akan dibagi rata, hasil investasi ini dilakukan berdasarkan prinsip akad mudharabah (kerjasama).


Asuransi Syariah Vs Asuransi Konvensional
Sebagian orang mungkin berpikir bahwa asuransi syariah dan konvensional hanya berbeda nama saja. Sebenarnya penjelasan diatas menunjukkan bahwa asuransi syariah memiliki akad yang berbeda jika dibandingkan dengan asuransi konvensional. Berikut penjelasan detailnya :



1. Asuransi syariah memiliki prinsip tolong menolong, sebaliknya asuransi konvensional dibuat 
    berdasarkan prinsip jual beli.

2. Dana yang terkumpul dalam asuransi syariah adalah hak peserta,bank hanya memegang amanah 
    untuk mengelolanya. Sebaliknya asuransi konvensional, dana yang terkumpul atau premi dari 
   nasabah menjadi milik perusahaan yang kemudian dikelola melalui berbagai macam jenis investasi.

3. Pembayaran klaim dalam asuransi syariah diambil dari dana tabarru (dana tolong-menolong) yang 
    dikumpulkan oleh para peserta asuransi syariah. Sebaliknya asuransi konvensional , dana klaim 
    diambil dari dana perusahaan.

4. Dari segi resiko, asuransi syariah dikarenakan konsep awalnya tolong menolong, jadi resiko yang 
    dialami 1 peserta akan dibagi keseluruh peserta yang berarti yang menanggung resiko adalah para 
    peserta bukan perusahaan asuransi, perusahaan asuransi hanya pemegang amanah. Sebaliknya, 
    konsep asuransi konvensional adalah pengalihan resiko, jika terjadi sesuatu kepada salah satu 
    peserta, perusahaan asuransilah yang menanggungnya. 


    Kesimpulannya, asuransi syariah tidak membeli polis tetapi uang yang dibayarkan adalah bentuk donasi atau derma yang dikenal sebagai akad tabbaru. Tidak ada pengalihan kepemilkan dana, tetapi pengumpulan dana. Konsep asuransi syariah adalah takaful, yakni perpaduan rasa tanggung jawab dan persaudaraan antar peserta yang dimana semua peserta saling menangung atau memikul resiko antar umat manusia.