facebook pixel

Dapatkan Tipsnya Sekarang Juga...
Merencanakan Manfaat Asuransi Yang optimal
Hanya Dengan Premi Minimal

Caranya, cukup isi form di bawah ini :
Nama Depan :
Alamat Email :
Nomer HP :


SEKALI LAGI, ASURANSI BUKAN SEKEDAR SOAL SAKIT DAN MATI

Pengalaman dari seorang teman,

SEKALI LAGI, INI BUKAN SEKEDAR SOAL SAKIT DAN MATI

"Untung aku beli mobil ini Maret kemarin, bro.  Kalau aku telat transfer, belinya sekarang.  Aku rugi 1 Milyar", kata mas Fajar, nasabah salah satu tim saya ini di restoran kemarin sore, saat kami singgung soal mobilnya.

Kebetulan dia meletakkan kunci mobil mewahnya di atas meja, sepertinya sengaja.

Mas Fajar ini salah satu contoh "Silent Rich" yang hidup di negeri kita.  Maksudnya, orang kaya tapi nggak kelihatan kaya.  Bukan tipe BPJS : Bujet Pas-pasan Jiwa Sosialita .

Usahanya cuma "makelaran" tapi omzetnya puluhan hingga nyaris ratusan milyar per tahun.  

Bulan Maret lalu, dia transfer pelunasan pembayaran mobil mewah sebesar US$ 700.000.  Jadi, memang kalau dihitung, dari selisih dengan nilai kurs hari ini, dia nyaris "berhemat" Rp 1 Miliar.  

Kemarin Mas Fajar bertemu kami bertiga (saya, team saya dan seorang konsultan pajak) untuk berdiskusi soal Strategi Pajak Penghasilannya.  Oh ya, saya ketemu dia dalam kapasitas sebagai CFP (Certified Financial Planner), bukan agen asuransi.

"Aku sebenernya udah males urusan sama orang asuransi, bro.  Polis asuransiku sudah numpuk tuh di rumah, nggak ngerti mau diapain", katanya.  Pembukaan yang mematikan.

"Oke. Mas Fajar.  Kita hari ini mau ngomongi soal pajak kan?  Lupakan dulu asuransi.  Kita fokus pada strategi mas Fajar mau nambah asset, tapi nggak perlu nambah Pajak Penghasilan, kan?", jawab saya tak kalah mematikan.



Dia manggut-manggut.  "Oke caranya gimana, kita to the point aja",pungkasnya.

Seperti biasa, saya keluarkan kertas HVS dan spidol.  Senjata rahasia saya.

"Oke mas Fajar, kita fokus pada target penambahan asset tahun depan yang hemat pajak", kata saya sambil mulai menggambar.

Asumsi penambahan assetnya Rp 5 Miliar, konversi dari uang tunai "nganggur" yang dimiliki saat ini.

Ada beberapa instrumen yang bisa kita pakai.  Mulai dari Buka deposito baru, Beli Obligasi (yang lagi hits sekarang SBR 004), dibelikan apartemen, tetap sebagai uang tunai dan ...dibelikan polis asuransi.

Saya lihat sorot mata mas Fajar sudah mulai curiga, pasti dalam pikirannya dia berkata "Apa?  Asuransi lagi?".

Setelah gambar selesai dibuat, saya sodorkan padanya.  

"Ini yang terjadi", jelas saya.  

Kalau konversi ke apartemen, selain ketika beli kena PPN 10% dan BPHTB 5% dari harga, nanti kalau apartemen itu dijual, dia musti bayar lagi PPh sebesar 2,6%.  Sedangkan apartemen dia sudah banyak.

Kalau konversi ke Deposito.  Dana sebesar Rp 5 Milyar melebihi batas dana yang dijamin oleh LPS.  Selain itu UU Pajak penghasilan menggariskan bahwa pajak atas bunga deposito adalah bersifat final, 20% dari bunga.  Itu nilai kewajiban pajaknya sekitar Rp 50 jutaan per tahun selama saldonya tetap dan bunganya tidak di ARO (Automatic Roll Over). Ini kurang cocok, karena saldo deposito mas Fajar sudah terlalu besar.

Kalau Konversi ke Obligasi, katakan dibelikan SBR 004 yang sekarang lagi hits bagus juga, kupon/returnya 8% per tahun.  Tapi jangan lupa, pajak atas hasil obligasi juga bersifat Final : 15% dari hasil, atau sekitar Rp 60 jutaan.  Ini bisa sebagai alternatif, tapi belum bisa menghemat pajak.



Tetap sebagai uang tunai?  tinggalkan alternatif ini.  Ribet, bikin tidur nggak nyenyak. Repot.

"Jadi tinggal asuransi dong", sergah mas Fajar.

Iya, Asuransi adalah alternatif diversifikasi asset.  Repotnya, ini adalah ALTERNATIF TERBAIK untuk kondisi mas Fajar saat ini.

"Maksudnya, alternatif Terbaik?", tanyanya penasaran.

Begini.  Pada saat mas Fajar menandatangani persetujuan penutupan polis asuransi, pada dasarnya dia sedang menyiapkan skenario investasi untuk dua skenario hidup : Skenario Pendek Umur dan Skenario Panjang Umur.

Mengapa Terbaik?  Karena Pencairan manfaat (klaim) tidak dikenakan PPh.  Ini asset likuid yang "tak laku digadai"  jadi aman aja disimpan di rumah...plus menurut UU no 19 Tahun 2000 (Penagihan Pajak dengan Surat Paksa), polis asuransi bukanlah termasuk asset yang bisa menjadi obyek sita pajak.

"Mosok sih?",tanyanya.

Saya sodorkan salinan UU no 36 tahun 2008, pasal 4 ayat 3.  Mas Fajar membaca, dan kelihatan sumringah.

"Aku udah ngerti, bro. Oke kita makan dulu, kita ngomong yang enak-enak.  Sudah paham aku sekarang", katanya sambil menyendok nasi dari wadahnya.

Itulah mengapa asuransi juga bisa dikatakan sebagai program penambah aset di masa depan. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang program penambah aset. Sekali lagi, asuransi bukan sekedar soal sakit dan mati. Hanya orang yang saya sama keluarganya lah yang akan berpikir untuk membeli asuransi !


Penutup
Banyak orang yang enggan membeli asuransi karena mereka memiliki pengalaman buruk, ada juga yang merasa ujung-ujungnya tidak terpakai, bahkan ada yang mengatakan prosedur klaimnya sulit.

Perusahaan asuransi bukan dengan sengaja tidak ingin membayarkan klaim. Sebesar apapun klaimnya perusahan asuransi pasti akan membayar jika sudah memenuhi prosedur yang berlaku dan mengikuti kontrak yang tertera pada buku polis anda. Konsultasikan kebutuhan asuransi anda dengan agen asuransi anda dan buku polis sangat perlu untuk dibaca.

Padahal dengan membeli asuransi berarti anda telah melindungi diri sendiri. Tidak ada orang yang pernah bangkrut hanya gara-gara membeli asuransi, tetapi sering kali banyak orang bangkrut karena tidak memiliki asuransi.

Sebelum anda membeli asuransi, konsultasikan kebutuhan asuransi anda dengan agen asuransi anda.
Atau konsultasikan kebutuhan anda bersama saya disiniGRATIS !

Atau hubungi

Clara 081520465346 (Whatsapp)
IG : @tips_membeli_asuransi
Page FB : tips membeli asuransi

Akhir kata, semoga anda sehat selalu dan menjadi masyarakat yang cerdas dan bijak.